IGWNEWS-Jessica Erzha Bolung membutuhkan waktu lebih dari tiga tahun sebelum akhirnya bisa bekerja di Belanda. Ia melewati proses belajar bahasa, beberapa kali mengikuti interview, melengkapi kredensial, hingga mengurus izin kerja dan tinggal.
Kini, lulusan Akademi Keperawatan Gunung Maria Tomohon itu merawat lansia dengan demensia di Limburg, sekaligus menikmati sistem kerja dan penghasilan yang menurutnya jauh lebih baik.
Cerita Jessica menuju Belanda sebenarnya dimulai pada Januari 2023. Saat itu, ia mendapat informasi mengenai program Yomema dari seorang teman yang juga merupakan alumni kampus yang sama.
Yomema sendiri adalah perusahaan yang bergerak dalam rekrutmen dan penempatan tenaga kesehatan internasional, termasuk menghubungkan tenaga kesehatan Indonesia dengan peluang kerja di Eropa. Yomema sebelumnya juga bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI dalam program pengembangan kapasitas dan penempatan tenaga perawat Indonesia ke Belanda.
Program tersebut menawarkan kesempatan bagi lulusan keperawatan Indonesia untuk bekerja atau kuliah sambil bekerja di Belanda. Salah satu hal yang membuat Jessica tertarik adalah adanya fasilitas kursus bahasa Belanda gratis selama enam bulan, uang saku sebesar Rp3,3 juta, uang makan Rp500 ribu per bulan, serta penggantian biaya tiket pesawat sebesar Rp1,5 juta bagi peserta dari luar Jakarta.
Namun, saat itu Belanda bukan tujuan utama Jessica. “Awalnya masih ragu mau ikut program itu karena mau kejar tujuan utama ke Jepang,” kata Jessica kepada IGW News.
Menurutnya, jika memilih jalur Jepang, ia harus mengikuti pendidikan di LPK terlebih dahulu dengan biaya yang saat itu diperkirakan mencapai Rp35 juta.
Namun, setelah melihat cukup banyak peserta yang berangkat ke Belanda melalui Yomema, Jessica akhirnya memutuskan mencoba.
“Karena sudah sempat lihat banyak yang berangkat ke Belanda dari Yomema, dengan tawaran dari program yang sangat membantu kandidat, jadi saya putuskan coba ikut rekrutmen Yomema,” ujar perempuan yang memiliki hobi menggambar, menyanyi, dan bermain gitar tersebut.
Akhir Januari 2023, Jessica mengirimkan CV dan surat lamaran dalam bahasa Inggris kepada pihak Yomema. Pada pertengahan Februari, ia mengikuti dua tahap interview yang seluruhnya dilakukan dalam bahasa Inggris.
Pada akhir Februari 2023, kabar yang ditunggu akhirnya datang. Jessica dinyatakan lulus sebagai peserta program Yomema.
Belajar Bahasa Belanda dan Penantian Panjang
Pada 3 April 2023, Jessica mulai mengikuti kursus bahasa Belanda di Erasmus Training Centre di Kedutaan Belanda, Kuningan, Jakarta. Perjalanannya tidak berhenti pada mengikuti kelas. Ia harus melewati sejumlah tahapan dan ujian untuk mencapai kemampuan bahasa Belanda level B1.
Setelah menjalani proses selama beberapa bulan, Jessica akhirnya menyelesaikan kursus pada 4 September 2023. Namun, keberangkatan yang sudah dinantikan belum juga terjadi.
Tidak lama setelah menyelesaikan kursus, Jessica mendapat kabar mengenai seorang peserta program yang sudah berada di Belanda dan tersangkut masalah hukum.
Kasus tersebut kemudian berdampak terhadap program. “Mulai dari situ program ini kena pengaruh karena kasus ini. Nama program jadi jelek di mata orang Belanda karena kesalahan satu orang,” tuturnya.
Jessica harus kembali menunggu. Hampir satu tahun dibutuhkan hingga persoalan tersebut akhirnya terselesaikan dan peluang keberangkatan kembali terbuka pada 2024. Namun, peluang yang tersedia saat itu hanya untuk visa kerja.
Pada Juli 2024, Jessica mendapat tawaran dari pihak Yomema untuk mengikuti rekrutmen dengan salah satu zorg instellingen, atau lembaga perawatan di Belanda.
Ia mengikuti interview tahap pertama dan dinyatakan lulus. Namun, setelah itu tidak ada kejelasan kapan proses akan berlanjut ke interview tahap kedua.
Karena belum mendapat kepastian, Jessica memilih untuk kembali bekerja sebagai perawat sambil menunggu kemungkinan lain.
“Saya putuskan untuk lanjut bekerja sebagai perawat sambil menunggu, siapa tahu ada peluang lain untuk ke Belanda,” .

Mencoba Lagi hingga Tiga Tahap Interview
Kesempatan berikutnya datang pada April 2025. Pihak Yomema kembali menawarkan rekrutmen di sebuah zorg instelling, kali ini dengan kebutuhan tenaga untuk perawatan lansia dengan demensia.
Jessica kembali mencoba. Pada 29 April 2025, ia menjalani interview pertama dengan pihak pemberi kerja di Belanda. Proses berlanjut ke interview kedua pada 12 Mei.
Setelah dinyatakan lulus, Jessica kembali menjalani interview tahap ketiga pada 27 Mei. Pada Juni 2025, email yang ditunggu akhirnya masuk. Jessica dinyatakan lulus interview tahap ketiga dan diminta menyiapkan sejumlah dokumen untuk proses kredensial.
Dokumen-dokumen tersebut diperiksa untuk memastikan validitas dan kesesuaiannya. Proses kredensial berlangsung dari akhir Juni hingga awal Agustus 2025.
Memasuki Agustus, Jessica kembali harus melengkapi berbagai berkas dan formulir untuk pengajuan ke CIBG, lembaga yang dalam beberapa hal memiliki fungsi seperti Kementerian Kesehatan di Indonesia.
Dari proses tersebut, Jessica semakin memahami bahwa diterima bekerja di Belanda bukan berarti seseorang bisa langsung berangkat.
“Di Belanda, walaupun sudah dinyatakan diterima di perusahaan, tetap harus melewati proses yang berlapis-lapis dan membutuhkan waktu yang lama,” ujar lulusan SMA Negeri 1 Tondano tersebut.
Ada pula faktor vakantie atau masa liburan yang turut memengaruhi proses administrasi.
Di Belanda, menurut Jessica, masa liburan merupakan waktu yang benar-benar dihormati. Ketika orang sedang vakantie, proses pekerjaan atau pengurusan tertentu bisa ikut melambat karena orang yang menangani proses tersebut sedang berlibur.
Jessica bahkan harus melewati dua periode vakantie dalam proses keberangkatannya, yakni zomervakantie atau liburan musim panas dan wintervakantie atau liburan musim dingin. Penantiannya kembali berlangsung panjang.
“Saat itu saya sudah tidak berharap banyak karena sebelumnya sempat kecewa dengan rekrutmen di zorg yang pertama,” ujarnya.
GVVA, MVV, hingga Akhirnya Berangkat
Setelah penantian panjang, pada 10 Februari 2026 proses Jessica akhirnya masuk ke tahap pengajuan GVVA, izin gabungan untuk bekerja dan tinggal di Belanda. Ia mendapat informasi bahwa proses tersebut dapat berlangsung maksimal tiga bulan.
Sambil menunggu, Jessica mulai menyiapkan berbagai dokumen yang mungkin dibutuhkan, termasuk dokumen terjemahan dan apostille. Pada 28 April 2026, GVVA akhirnya dinyatakan approved.
Proses berikutnya adalah pengurusan MVV di Kedutaan Belanda di Kuningan, Jakarta. MVV merupakan visa yang digunakan untuk masuk ke Belanda. Jessica mendapat appointment pada 19 Mei. Setelah proses pengajuan, MVV akhirnya terbit pada 26 Mei 2026.
Tiga hari kemudian, pada 29 Mei, Jessica benar-benar meninggalkan Indonesia. Perjalanan tersebut sekaligus menjadi pengalaman pertamanya pergi ke luar negeri.
Ia bahkan sempat merasa was-was karena penerbangannya harus transit di Dubai.
“Ini pertama kali ke luar negeri dengan penerbangan transit di Dubai. Sebenarnya was-was karena sebelumnya belum pernah ada pengalaman transit,” kata Jessica.
Namun, kekhawatiran itu akhirnya terlewati. Pada 29 Mei 2026, Jessica tiba di Belanda.
Merawat Lansia di Limburg
Tiga hari setelah tiba, Jessica langsung mengurus berbagai kebutuhan administrasi. Mulai dari registrasi di gemeente, legalisasi di notaris, hingga mengurus verblijfstitel atau kartu izin tinggal di kantor IND (Immigratie- en Naturalisatiedienst).
Setelah semua proses berjalan, Jessica akhirnya mulai bekerja pada 30 Juni 2026. Ia ditempatkan di sebuah zorg instelling yang khusus menangani lansia dengan demensia di Limburg, wilayah bagian selatan Belanda.
Di sana, Jessica bekerja sebagai verzorgende IG. Pekerjaan tersebut kurang lebih menyerupai caregiver atau asisten perawat di Indonesia, tetapi dengan kewenangan melakukan sejumlah tindakan medis dasar.
Ia bekerja selama 32 jam per minggu dengan gaji €2.300 per bulan sebelum pajak. Dengan kurs sekitar Rp19.000 per euro, angka tersebut setara sekitar Rp43,7 juta per bulan. Setelah potongan pajak sekitar €300, pendapatan yang diterima sekitar €2.000 atau sekitar Rp38 juta per bulan.
Namun, bagi Jessica, pengalaman bekerja di Belanda bukan semata soal nominal penghasilan. Salah satu tantangan terbesarnya justru bahasa.
Limburg memiliki dialek sendiri. Wilayah tersebut juga berada dekat perbatasan Belanda, Belgia, dan Jerman sehingga menurut Jessica, bahasa yang digunakan sehari-hari terasa bercampur.
“Dari segi bahasa beda dengan apa yang sudah saya belajar sebelumnya. Limburg ada dialek sendiri, ditambah karena ada di daerah perbatasan antara Belanda, Belgia, dan Jerman, jadi sudah tercampur-campur bahasanya,” tuturnya.
Karena itu, Jessica harus lebih berkonsentrasi ketika berkomunikasi dengan pasien maupun rekan kerja. “Jadi harus dengar baik-baik baru mengerti apa yang mereka bilang,” ujarnya.
Limburg juga memiliki karakter geografis yang berbeda dengan kota-kota besar Belanda. Untuk menuju Amsterdam, Den Haag, Utrecht dan kota besar lainnya, Jessica membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat jam menggunakan kereta.
Namun, tinggal di Limburg memberikan keuntungan tersendiri bagi Jessica yang ingin bepergian ke negara tetangga. “Kalau mau jalan-jalan ke Jerman atau Belgia lebih dekat,” katanya.
Sistem Kerja yang Berbeda
Selain bahasa, Jessica juga menemukan perbedaan besar dalam budaya kerja. Salah satunya adalah cara pekerja berkomunikasi dengan senior dan rekan kerja.
Di Indonesia, menurut Jessica, terlalu banyak bertanya kepada senior atau rekan kerja terkadang dianggap sebagai tanda seseorang tidak belajar. Di Belanda, justru sebaliknya.
“Di sini mereka malah lebih suka kalau kita tidak tahu, kita banyak tanya kepada mereka. Karena kalau kita bertanya berarti kita suka mau belajar,” kata Jessica.
Ia juga dituntut memiliki inisiatif lebih besar dalam bekerja. Jika pekerjaan sendiri sudah selesai dan ada rekan kerja yang membutuhkan bantuan, Jessica boleh membantu. Namun, ia belajar bahwa membantu bukan berarti mengambil alih pekerjaan orang lain.
“Kalau kita sudah selesai dengan kerjaan masing-masing, misalnya ada teman kerja yang perlu dibantu, kita boleh bantu. Tapi bukan berarti karena kita boleh bantu, teman yang lain jadi bergantung sekali dengan bantuan orang lain,” ujarnya.
Menurut Jessica, pekerja juga tetap harus memahami batas tanggung jawab masing-masing agar pekerjaan tidak justru menjadi tidak sehat. Salah satu hal yang paling membantu pekerjaannya adalah penggunaan alat bantu untuk memindahkan pasien.
Pasien yang perlu dipindahkan dari tempat tidur ke kursi roda atau toilet tidak harus selalu diangkat secara manual oleh pekerja.
“Di sini ada alat bantu proses memindahkan pasien yang sangat membantu meringankan pekerjaan. Jadi tidak perlu susah payah mengangkat pasien secara manual,” tuturnya.

Ada Coffee Break dan Jatah Liburan
Jessica juga merasakan perbedaan dari sisi waktu istirahat. Dalam satu shift, terdapat coffee break bagi pekerja. Sekitar 30 menit digunakan untuk beristirahat, minum kopi, makan buah, sarapan, atau sekadar menikmati camilan.
Namun, coffee break bukan hanya waktu untuk makan dan minum. Para pekerja juga menggunakan waktu tersebut untuk membicarakan pekerjaan.
Mereka mendiskusikan apakah ada sesuatu yang perlu diperhatikan, apakah ada pekerjaan yang belum selesai, hingga saling menanyakan kabar.
“Di saat coffee break juga kadang sesama rekan kerja saling tanya keadaan masing-masing atau bagaimana suasana liburan,” kata perempuan yang hobi menggambar tersebut.
Ada pula vakantie, yang menjadi bagian penting dalam kehidupan kerja di Belanda. Menurut Jessica, pekerja umumnya mendapatkan jatah liburan sekitar tiga hingga enam minggu setiap tahun.
Hal lain yang menarik perhatian Jessica adalah cara orang Belanda berkomunikasi. Menurutnya, orang Belanda cenderung berbicara secara langsung dan tidak banyak menggunakan basa-basi.
Jika tidak menyukai sesuatu dari seseorang, termasuk terkait sifat atau cara bekerja, mereka dapat menyampaikannya secara langsung. “Kalau di Indonesia kadang kita tidak enakan mau sampaikan sesuatu. Walaupun orang itu ada bikin salah, kita tidak enak mau tegur,” ujarnya.
Begitu juga dalam urusan bertemu. Masyarakat di sana terbiasa membuat appointment dan mencatat agenda di buku atau ponsel.
Karena itu, ketika ingin bertemu seseorang, Jessica harus terlebih dahulu melihat jadwal orang tersebut. “Tidak bisa langsung mau bertamu atau langsung mau ketemu begitu saja,” katanya.
Pesan untuk Calon PMI
Dari perjalanan panjangnya, Jessica memiliki sejumlah pesan bagi masyarakat Indonesia yang ingin bekerja ke luar negeri.
Pesan pertama adalah mempersiapkan kemampuan bahasa Inggris. Menurutnya, kemampuan tersebut setidaknya penting pada level dasar karena proses interview untuk program atau pekerjaan luar negeri sering dilakukan dalam bahasa Inggris.
Belajar pun bisa dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari aplikasi bahasa, film, lagu, hingga berinteraksi di media sosial.
Pesan kedua, menurut Jessica, adalah mencari jalur resmi. Ia menyebut masyarakat dapat mencari informasi melalui jalur pemerintah atau lembaga pelatihan kerja yang memang memiliki pengalaman mengirim pekerja ke luar negeri.
Jika memilih LPK, calon pekerja juga harus melakukan pengecekan terlebih dahulu. “Cari tahu apakah mereka sudah berpengalaman kirim tenaga kerja, apakah mereka trusted dan sudah banyak peserta yang berangkat dari situ,” ujarnya.
Menurutnya, rekam jejak menjadi salah satu hal penting sebelum seseorang menyerahkan uang maupun dokumen kepada pihak yang menawarkan pekerjaan di luar negeri.
Jessica juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah tergiur tawaran pekerjaan dengan gaji tinggi tetapi informasinya tidak jelas. Ia mengaku pernah menemukan situasi ketika seseorang menawarkan pekerjaan di negara tertentu dengan iming-iming gaji besar, tetapi tidak dapat memberikan informasi jelas mengenai tempat kerja maupun jobdesk.
“Jangan langsung tergoda pas ada kenalan atau teman yang tawarkan, ‘Mari kerja di negara ABC, gajinya tinggi,’” katanya. Masalahnya, menurut Jessica, tawaran semacam itu bisa saja menjadi pintu masuk bagi praktik perdagangan orang atau human trafficking.
“Karena kasus human trafficking masih sering terjadi, apalagi di luar negeri. Bisa jadi itu salah satu jebakan yang nantinya bisa bikin kita jadi korban human trafficking,” ujarnya.
Karena itu, Jessica menyarankan calon PMI mencari perusahaan yang bersedia menjadi sponsor visa. Dengan adanya sponsor, pekerja dapat bekerja secara legal sekaligus memiliki status tinggal yang sah di negara tujuan.
“Dengan cara ini kita boleh bekerja secara legal dan tinggal secara sah di negara tujuan,” katanya.
Bahkan, menurut Jessica, ada perusahaan yang bersedia menanggung biaya pengurusan visa dan imigrasi sehingga pekerja tidak perlu menanggung seluruh biaya sendiri.
Perjalanan Jessica menunjukkan bahwa bekerja ke luar negeri melalui jalur resmi memang membutuhkan kesabaran. Ia harus menunggu lebih dari tiga tahun sejak pertama kali mengetahui peluang ke Belanda hingga akhirnya benar-benar bekerja di sana.
Namun, setelah sampai, ia tidak hanya menemukan pekerjaan dan penghasilan yang lebih baik. Ia juga menemukan pengalaman baru tentang bagaimana pekerjaan dapat dijalankan dengan batas waktu kerja yang jelas, waktu istirahat, jatah liburan, alat bantu yang mendukung pekerjaan, serta budaya kerja yang mendorong pekerja untuk terus belajar.
Kini, di Limburg, Jessica menjalani babak baru dalam perjalanan hidupnya. Di sela kesibukannya merawat lansia dengan demensia, perempuan kelahiran Ranowangko II, 27 Januari 1999, itu masih membawa kebiasaan dan hobinya dari Indonesia, menggambar, menyanyi, dan bermain gitar.
Setelah melewati perjalanan panjang dan penantian yang berkali-kali membuatnya hampir kehilangan harapan, Jessica akhirnya membuktikan bahwa bekerja di luar negeri bukan hanya soal seberapa besar gaji yang ditawarkan.
Bagi dirinya, yang tidak kalah penting adalah bagaimana pekerjaan itu didapatkan dan dijalankan secara legal, aman, dan memberikan perlindungan bagi pekerja.(igwn/fb)
Baca juga:
Gaji Kerja di Belanda 2026, Berapa Penghasilan Pekerja Indonesia?
Cara Bekerja di Belanda untuk WNI 2026, Ini Syarat dan Jalurnya
Peluang Kerja di Belanda 2026, Ini Bidang yang Banyak Membutuhkan Tenaga Kerja
