IGWNEWS-Gaji puluhan juta rupiah menjadi salah satu alasan banyak orang tertarik bekerja di luar negeri. Namun, gaji kerja di luar negeri tidak otomatis menjadi jumlah uang yang bisa ditabung.
Ada biaya hidup, potongan, kebutuhan sehari-hari, serta fasilitas dari pemberi kerja yang perlu diperhitungkan. Karena itu, calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) sebaiknya tidak hanya melihat nominal gaji ketika memilih pekerjaan.
Gaji bukan berarti uang yang masuk ke tabungan
Besaran gaji yang tercantum dalam kontrak merupakan salah satu informasi penting. Namun, jumlah tersebut belum menggambarkan berapa uang yang dapat disimpan setiap bulan.
Kondisi setiap PMI juga berbeda. Pekerja yang mendapatkan tempat tinggal dan makan dari perusahaan tentu memiliki pengeluaran berbeda dengan pekerja yang harus membayar kebutuhan tersebut sendiri.
Hal yang sama berlaku untuk lembur. Pendapatan seseorang dapat bertambah jika memiliki jam kerja tambahan sesuai ketentuan dan kontrak. Karena itu, calon PMI perlu memahami sistem pengupahan sebelum berangkat.
Contoh dari Korea Selatan
Korea Selatan menjadi salah satu negara tujuan PMI. Pada 2026, pemerintah Korea Selatan menetapkan upah minimum sebesar 10.320 won per jam.
Dikutip dari Kementerian Ketenagakerjaan dan Ketenagakerjaan Korea Selatan atau Ministry of Employment and Labor (MOEL), angka tersebut setara dengan 2.156.880 won per bulan berdasarkan 209 jam kerja.
Angka tersebut merupakan batas minimum. Pendapatan aktual seorang pekerja dapat berbeda sesuai pekerjaan, kontrak, jam kerja dan lembur.
Karena itu, melihat informasi “gaji puluhan juta” tanpa mengetahui detail pekerjaan bisa memberikan gambaran yang kurang lengkap.
Biaya hidup ikut menentukan tabungan
Setelah mengetahui gaji, calon PMI juga perlu menghitung biaya hidup. Pengeluaran untuk tempat tinggal, makan, transportasi, komunikasi dan kebutuhan pribadi dapat mengurangi pendapatan bulanan.
Fasilitas yang diberikan perusahaan juga penting. Dalam sejumlah informasi penempatan yang dipublikasikan KP2MI, calon PMI dapat melihat informasi mengenai gaji, jam kerja, lembur, akomodasi, makan, transportasi, asuransi dan cuti.
Dengan kata lain, dua PMI dengan gaji yang sama belum tentu memiliki jumlah tabungan yang sama.
Jangan hanya mengejar nominal gaji
KP2MI juga menyediakan informasi lowongan melalui SISKOP2MI. Di dalam sistem tersebut, masyarakat dapat melihat informasi lowongan dan kuota yang tersedia.
Sebelum menerima pekerjaan, calon PMI sebaiknya membandingkan gaji dengan biaya hidup dan fasilitas yang diberikan.
Target yang lebih realistis bukan sekadar “mendapat gaji Rp20 juta”, tetapi mengetahui berapa pendapatan bersih yang dapat disimpan setelah kebutuhan hidup terpenuhi.
Bekerja di luar negeri memang dapat membuka peluang penghasilan yang lebih besar. Namun, gaji besar belum tentu menghasilkan tabungan besar.
Calon PMI perlu melihat keseluruhan paket pekerjaan, mulai dari gaji, jam kerja, lembur, fasilitas, potongan hingga biaya hidup. Dengan perhitungan tersebut, keputusan untuk bekerja di luar negeri bisa dibuat berdasarkan kondisi nyata, bukan hanya angka gaji.(igwn/fb)
Baca juga:
Gaji Kerja di Belanda 2026, Berapa Penghasilan Pekerja Indonesia?
Perawat jadi Favorit PMI di Jerman, Ini Kisaran Gajinya
Kerja di Jepang: Ini Sektor yang Banyak Membuka Lowongan untuk PMI dan Kisaran Gajinya
