IGWNEWS–Indonesia perlu mempersiapkan generasi muda agar bonus demografi menjadi peluang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selain membuka peluang berkarya di dalam negeri, angkatan kerja produktif juga perlu dibekali keterampilan agar mampu bersaing di pasar kerja internasional melalui jalur penempatan pekerja migran Indonesia (PMI) yang resmi.
Hal tersebut disampaikan Staf Khusus Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) Ilham Akbar Mustafa dalam kegiatan Growth Program 2026 bertema Empowering the Golden Generation: Turning Demographic Dividend into Sustainable Impact, yang diinisiasi BEM FISIP Universitas Bung Karno (UBK) Sabtu (17/10/2026).
Menurut Ilham, bonus demografi tidak cukup dimaknai sebagai besarnya jumlah penduduk usia produktif. Tantangan utamanya adalah mengubah keunggulan demografis tersebut menjadi peluang yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Indonesia Emas 2045 tidak mungkin terwujud jika kita tidak mempersiapkan diri sejak sekarang. Membicarakan bonus demografi bukan hanya soal jumlah penduduk usia produktif, tetapi bagaimana mengonversi keunggulan demografis menjadi peluang yang bisa dimanfaatkan masyarakat,” ujarnya.
Ilham menegaskan, persiapan menghadapi bonus demografi merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah. Generasi muda perlu meningkatkan kompetensi agar dapat memanfaatkan peluang kerja dan berkontribusi terhadap pembangunan.
Salah satu upaya yang didorong KP2MI adalah program SMK Go Global serta peningkatan keterampilan dan kapasitas calon pekerja migran Indonesia. Dengan persiapan yang memadai, generasi muda yang ingin bekerja di luar negeri diharapkan dapat mengakses peluang kerja melalui jalur resmi dan memiliki kompetensi sesuai kebutuhan pasar kerja negara tujuan.
“Jika anak muda tidak memanfaatkan peluang yang ada, bonus demografi bisa terlewatkan. Karena itu, peningkatan keterampilan dan kapasitas menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi persaingan kerja,” kata Ilham.
Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia menghadapi tantangan untuk mengoptimalkan besarnya penduduk usia produktif. Berdasarkan proyeksi yang disampaikan dalam forum tersebut, proporsi penduduk usia produktif diperkirakan mencapai sekitar 64 persen pada 2035. Pada saat yang sama, persoalan anak muda yang tidak bekerja, tidak bersekolah, dan tidak mengikuti pelatihan (not in employment, education, or training/NEET) masih perlu mendapat perhatian.
Menurut Ilham, kondisi tersebut harus menjadi dorongan untuk memperkuat pendidikan, pelatihan, dan akses terhadap kesempatan kerja. Terlebih, sejumlah negara tujuan potensial menghadapi penuaan penduduk sehingga kebutuhan tenaga kerja dapat menjadi peluang bagi pekerja Indonesia yang memenuhi persyaratan.
Meski demikian, Ilham mengingatkan generasi muda agar tidak pesimistis dalam menghadapi masa depan. Ia menilai optimisme perlu dijaga, terutama karena masih banyak anak muda yang tetap berkarya dan membantu masyarakat di tengah berbagai keterbatasan.
“Jangan pernah pesimistis menghadapi masa depan. Di tengah keterbatasan, masih banyak anak muda yang turun tangan membantu masyarakat. Optimisme seperti ini harus dirawat dan dijaga. Pesimisme justru bisa menjadi langkah awal yang menghambat kita untuk berkembang,” ujarnya.
Kegiatan Growth Program 2026 juga menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi dan generasi muda yaitu Harsen Roy Tampomuri, Dimas Dwi Pangestu dan Nadira Alivia Mustopo. Diskusi dipandu Rai Bhaka Ribowo sebagai moderator.
Forum tersebut menjadi ruang diskusi mengenai peran generasi muda dalam mempersiapkan masa depan Indonesia, termasuk pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia agar bonus demografi dapat memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat.(igwn/fb)
