IGWNEWS—Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) resmi memulai program SMK Go Global sebagai bagian dari upaya pemerintah menyiapkan tenaga kerja terampil untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja internasional.
Program tersebut diluncurkan Menteri P2MI Mukhtarudin melalui Kick Off SMK Go Global bertema “Tingkatkan Kapasitas Pekerja Migran Indonesia Terampil Mendunia” di Balai Diklat Industri (BDI) Jakarta Timur, Rabu (26/8/2026).
Mukhtarudin mengatakan program ini merupakan bagian dari pelindungan pekerja migran dari hulu, melalui pembekalan kompetensi, bahasa, dan sertifikasi yang disesuaikan dengan kebutuhan negara tujuan.
“SMK Go Global merupakan bentuk pelindungan dari hulu. Peserta dibekali kompetensi, bahasa, serta sertifikasi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja internasional agar siap bekerja melalui jalur yang legal, aman, dan terlindungi,” ujar Mukhtarudin.
Menurutnya, program tersebut juga menjadi bagian dari pelaksanaan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna pada 20 Oktober 2025 untuk menyiapkan 500.000 tenaga kerja terampil.
Dari target tersebut, 300.000 peserta ditujukan bagi lulusan SMK dan 200.000 lainnya berasal dari pendaftar umum, termasuk lulusan SMA, diploma, hingga sarjana.
Penyiapan 500.000 calon pekerja migran Indonesia (CPMI) dilakukan secara bertahap. Targetnya 40.000 orang pada 2026, 140.000 pada 2027, 180.000 pada 2028, dan 140.000 pada 2029.
Berbasis kebutuhan pasar global
KP2MI menerapkan pendekatan demand-driven dalam program SMK Go Global. Pelatihan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di negara tujuan, terutama melalui peningkatan keterampilan atau upskilling.
“Yang kita siapkan bukan sekadar tenaga kerja untuk diberangkatkan, tetapi tenaga kerja yang memiliki kompetensi dan mampu memenuhi standar kebutuhan industri di negara tujuan,” kata Mukhtarudin.
KP2MI menyiapkan 2.000 kelas pelatihan yang tersebar di 23 wilayah kerja Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI).
Peserta nantinya diarahkan untuk mengisi peluang kerja di sejumlah negara, antara lain Jepang, Jerman, Korea Selatan, Malaysia, Singapura, Turki, Taiwan, Maladewa, serta negara-negara di Eropa.
Pada Batch 1 yang dibuka 12–22 Agustus 2026, tercatat 14.523 orang mendaftar. Setelah melalui verifikasi administrasi, tes tertulis, dan wawancara, sebanyak 3.340 peserta dinyatakan lolos.
Mereka mengikuti pelatihan dalam 167 kelas yang tersebar di 20 wilayah kerja BP3MI.
Didukung Kementerian Perindustrian
Program SMK Go Global juga melibatkan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), terutama dalam penyiapan kompetensi teknis calon pekerja migran.
Plt. Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin Emmy Suryandari mengatakan kolaborasi tersebut menjadi bagian dari sinergi hulu-hilir dalam menyiapkan tenaga kerja yang sesuai kebutuhan industri global.
“Kementerian Perindustrian berperan di sisi hulu untuk menyiapkan skill dan kompetensi teknis dari para pekerja serta memastikan tersedianya standar kualitas. Sementara itu, Kementerian P2MI berperan di sisi hilir membuka akses pasar kerja, menempatkan lulusan, dan memberikan payung perlindungan,” ujar Emmy.
Kemenperin akan mengoptimalkan tujuh BDI di Jakarta, Medan, Padang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, dan Makassar.
Pembekalan CPMI mencakup tiga aspek utama, yakni pelatihan berbasis kompetensi, sertifikasi kompetensi, dan penguatan etos kerja.
Emmy berharap kolaborasi tersebut dapat memperkuat job matching sekaligus meningkatkan daya saing pekerja migran Indonesia di pasar global.
“Harapan kita, mereka yang mengikuti program ini bukan hanya siap bekerja di luar negeri, tetapi juga mampu membawa nama baik Indonesia dan memberikan kontribusi bagi keluarga serta perekonomian nasional,” pungkas Mukhtarudin.(igwn/fb)
Baca juga:
SMK Go Global KP2MI Berbasis Demand, Peserta Harus Punya Kepastian Penempatan
KP2MI Perkuat Program SMK Go Global, Siapkan Lulusan SMK Bersaing di Pasar Kerja Internasional
KP2MI Verifikasi 129 Kelas Pelatihan PMI Jelang Kick-off Nasional
