IGWNEWS—Salah satu motivasi utama menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) adalah memperbaiki taraf ekonomi keluarga di kampung halaman. Namun, seringkali semangat mencari nafkah tidak dibarengi dengan manajemen keuangan yang matang, sehingga hasil kerja keras tidak tersimpan dengan maksimal.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menekankan bahwa langkah pertama dalam mengelola keuangan adalah memisahkan rekening untuk kebutuhan sehari-hari di negara penempatan dan rekening khusus untuk tabungan serta kiriman uang ke Indonesia. Hindari penggunaan jasa pengiriman uang tidak resmi atau sistem “bawa tangan” kepada perseorangan, karena risiko kehilangan dana sangat tinggi dan tidak memiliki perlindungan hukum.
Gunakanlah saluran remitansi resmi yang telah terdaftar di bank sentral negara tempat Anda bekerja atau aplikasi remitansi yang memiliki lisensi resmi. Selain menjamin keamanan, lembaga resmi menyediakan kurs yang kompetitif dan transparansi biaya admin.
Langkah selanjutnya adalah membangun disiplin menabung. Idealnya, sisihkan setidaknya 30-50% dari pendapatan bulanan sebelum mulai berbelanja kebutuhan lainnya. Buatlah anggaran yang mencakup dana darurat, dana yang hanya digunakan saat terjadi kondisi mendesak seperti masalah kesehatan mendadak atau kebutuhan keluarga yang tidak terduga. Dengan perencanaan yang disiplin, remitansi yang Anda kirimkan tidak hanya habis untuk konsumsi, tetapi bisa menjadi modal usaha atau aset produktif bagi keluarga di tanah air.(igwn/26)
