Evaluasi SMK Go Global, KP2MI Targetkan Kuota Terserap 100 Persen

IGWNEWS–Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) mengevaluasi pelaksanaan Program SMK Go Global untuk memastikan pelatihan bagi Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) berjalan tepat sasaran dan seluruh kuota yang disediakan pemerintah dapat terserap.

Evaluasi dipimpin Wakil Menteri P2MI Dzulfikar Ahmad Tawalla di Kantor KP2MI, Jakarta, Senin (31/8/2026), dan diikuti seluruh Pimpinan Tinggi Madya serta Pimpinan Tinggi Pratama KP2MI. Seluruh Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) juga mengikuti rapat melalui Zoom Meeting.

Dalam rapat tersebut, Dzulfikar menerima laporan perkembangan Program SMK Go Global, termasuk pendaftaran dan pelatihan yang telah dibuka sejak 12 Agustus 2026.

Dzulfikar mengatakan evaluasi perlu dilakukan secara berkala karena SMK Go Global merupakan program baru. Pemerintah menargetkan kuota yang tersedia dapat dimanfaatkan secara maksimal hingga batas waktu 30 September.

“Karena program ini merupakan program baru, kita harus sering duduk bareng untuk menyatukan persepsi dan pemahaman kita, sehingga ke depannya sampai 30 September kita pastikan dapat terserap 100 persen,” ujar Dzulfikar.

Perbaiki Kendala Batch I

Sekretaris Jenderal KP2MI Komjen Pol Dwiyono menyampaikan masih terdapat sejumlah kendala dalam pelaksanaan di lapangan, salah satunya persoalan administrasi di BP3MI Lampung.

Menurutnya, diperlukan pendampingan, peningkatan kapasitas, serta penguatan sosialisasi dan koordinasi dengan pemerintah daerah agar persoalan pada batch pertama tidak kembali terjadi pada pelaksanaan berikutnya.

“Jangan sampai permasalahan-permasalahan yang ada di batch I terulang kembali di batch berikutnya,” ujarnya.

Evaluasi juga mencakup pemetaan kapasitas pelatihan di berbagai fasilitas yang telah digunakan, termasuk kebutuhan pengadaan melalui E-Katalog. Dzulfikar meminta standar dan target Migrant Center turut diperjelas agar pengembangannya sesuai kebutuhan.

Di sisi lain, KP2MI mencatat terdapat jenis pelatihan dengan permintaan tinggi, salah satunya sektor manufaktur di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut perlu dipetakan agar kapasitas pelatihan dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

KP2MI juga menekankan pentingnya transparansi informasi kepada CPMI. Informasi mengenai jenis pekerjaan, negara tujuan, kondisi kerja, hak dan kewajiban, biaya, hingga mekanisme pengaduan perlu disampaikan secara jelas kepada masyarakat.

Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan calon pekerja memahami peluang dan proses bekerja ke luar negeri serta mencegah munculnya informasi yang simpang siur.(igwn/fb)

Baca juga:

Program SMK Go Global dari KP2MI Targetkan 500.000 Pekerja Migran Terampil hingga 2029

SMK Go Global KP2MI Berbasis Demand, Peserta Harus Punya Kepastian Penempatan

KP2MI Perkuat Program SMK Go Global, Siapkan Lulusan SMK Bersaing di Pasar Kerja Internasional